Lelaki Serba Hitam dan Pernikahan

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
/* List Definitions */
@list l0
{mso-list-id:12802385;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:478594420 -240776942 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}
@list l0:level1
{mso-level-tab-stop:36.0pt;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;}
ol
{margin-bottom:0cm;}
ul
{margin-bottom:0cm;}
–>

Lelaki Serba Hitam dan Pernikahan

3 Rajab 1429 H / 6 Juli 2008

Entah
ada hubungannya atau tidak di setiap episode-episode kehidupan kita. Tapi
mungkin, kalu Anda membaca pengalaman saya, mungkin Anda percaya. Dan saya
hanya yakin bahwa semua itu adalah keputusan terbaik yang Allah berikan untuk
saya.

Hari
itu saya kembali pulih dari rasa capek saya, akibat perjalanan PP
Malang-Mojokerto dengan naik sepeda motor, untuk memenuhi undangan walimah
mantan pengurus LDK Forkalam, kemarin. Karena capek saya sudah hilang, saya
manfaatkan paginya untuk bersih2 rumah, bantu ortu di pasar, agak siangan ikut
agenda dakwah di kampung. Maghrib saya sudah di kampus.

Ba’da
isya’, di tengah saya bertilawah Al Quran, ada orang berpakaian hitam-hitam
masuk ke mushola (MNI), dia sudah agak tua, berjenggot, dan memegang tas
pegangan, warna hitam juga. Kayak musafir lah. Dilihat dari fisiknya, saya
yakin dia bukan orang kampus, meskipun saya pernah sekali melihat dia sedang
beristirahat, juga di MNI. Dilihat dari
wajahnya, rupanya dia kelelahan dan benar, dia tidur. Saya biarkan. Karena
memang biasanya MNI sering buat ‘rujukan’ orang-orang untuk menginap, kalo
mungkin dia kemalaman.

Setelah
itu saya teringat kalau saudara saya, akh Sahid, mantan Ketum Forkalam, mau
pinjam buku saya, buku tentang pernikahan yang cukup lengkap, yang dari dulu
memang ingin saya miliki, Barakallahu Laka…. Bahagianya Merayakan Cinta, karya
ustadz Salim A Fillah.
Dan saya juga baru ingat bahwa besok adalah hari
Senin. Jadi besok harus shoum, dan malam ini harus beli nasi. Saya ngajak akh
Suhaimi, partner takmir ana, beli nasi untuk makan sahur dan sekalian mampir ke
kontrakan akh Sahid untuk nganterin buku pesenan beliau. Uang saya ambil, dan
buku saya keluarkan dari kamar. Kita berangkat pake sepeda motor.

Nyampe pintu gerbang veteran, sebelum keluar
kampus, saya teringat kalo bukunya tertinggal di Musholla. Kami kembali untuk
mengambilnya. Ternyata buku itu sudah tidak ada. Kami cari-cari juga gak
ketemu. Sekret Forkam pun juga kami periksa. Tak ada hasil signifikan. Semua
tempat sekitar situ bahkan. Tetap. Ngga’ ketemu. Anehnya, orang serba hitam
yang tidur tadi juga gak ada. ”Su’udzan” ana, dia yang ngambil (kalo tidak mau
disebut mencuri). Alasannya, waktu dia datang ke MNI, tingkahnya sangat
mencurigakan, tak seperti musafir-musafir biasanya.

Tak terasa hati ini memuji sang Rabbi, ”Alhamdulillahi
’ala kulli hal” (Segala puji bagi Allah dalam setiap hal). Tapi tetap, ada
perasaan tidak ikhlas menyusup halus ke hati saya. Segera saya berucap,
”Astaghfirullah”.

Analisis saya terhadap diri saya (evaluasi) pasca
kehilangan buku yang cukup tebal itu, kemungkinannya sebagai berikut

  1. Hukuman

Ini adalah hukuman yang Allah berikan kepada saya
karena saya adalah salah satu hamba-Nya yang sering bermaksiat, melampaui
batas, jarang mengingat-Nya, tidak mematuhi syariat-Nya dan tindakan2 kufur
lainnya. Mungkin Allah menginginkan saya segera keluar dari lubang hitam itu.
Semoga Anda juga.

  1. Harta
         saya syubhat, bahkan haram. Atau mungkin ada hak orang lain dalam harta
         saya.
    Sehingga Allah ’mengenakan pajak’ kepada saya berupa buku tadi.
  2. Terlalu
         cinta pada dunia
    . Sampai-sampai mungkin melebihi cinta saya kepada Allah
         dan Rasul-Nya. Astaghfirullah…. Sehingga Allah mengajari kepada saya
         tentang hakikat cinta melalui kejadian ini.
  3. Jarang
         berinfaq
    , entah berupa uang , makanan, buku, atau yang lain. Sehingga
         Allah melatih saya lewat kejadian ini.
  4. Saya
         orang yang sangat teledor
    . Allah mengingatkan saya agar gak terlalu sering
         menjadi ikhwan yang teledor.
  5. Mungkin
         yang terakhir dari kemungkinan2 saya: Allah menyuruh saya segera menikah
         (ups..???!!! GR nih..).
    Allah nggak mau ilmu2-Nya tentang niatan,
         mempersiapkan menikah, tata cara menikah syar’i, ma’isyah, pembentukan
         rumah tanggga sakinah mawaddah wa rahmah, bertetangga dan bermasyarakat,
         dll hanya ada di otak saya sebagai tsaqofah saja atau di atas kertas
         sebagai literatur dan referensi saja. Mengingat saya banyak undangan menikah juga, kemarin mantan kaput, besok paman saya, kamis depan akh Furqan, dan mungkin nnti ada lg ikhwah yg nikah. (Siapa ya…???) Jadi Allah ingin saya: Learning by
         Doing…(cyee…)

 

Hanya itu evalusi saya, mungkin bagi Anda yang mau
menambahkan kami persilahkan. Tafadhol. Agar saya dapat memaknai setiap
jenak-jenak kehidupan.

Terima kasih ya sudah membaca. Semoga Allah
mencatat ini sebagai amal baik Anda yang diterima.

Maaf kalo judulnya agak nggak nyambung, susah mikir…., n teknik marketing saya (biar banyak yang baca, hehehe)

 

Salam Satu Jiwa. Salam Cinta dan Keadilan.

 

 

2 Responses to “Lelaki Serba Hitam dan Pernikahan”

  1. Toni Says:

    ehm ehm…. ;)

  2. phiet Says:

    sayangnya an gak bisa iku kemaren..ada larangan dari ortu..’hikz..

Leave a Reply