Bapak Tua Pemilik Wartel Itu…..
Bapak Tua Pemilik Wartel Itu…..
Dalam
sebuah kepanitiaan Daurah (pelatihan) bagi temen2 aktivis dakwah kampus, saya
waktu itu sebagai penanggung jawab peminjaman LCD. Alhamdulillah saya sudah
dapat. Tinggal ngambil dan bayar. Pas hari H dauroh itu, pagi-pagi sekali saya
ambil LCD itu, tepatnya di kantor dakwah Hizbul
‘Adalah di daerah Sukun. Teman-teman
panitia sudah menunggu kedatangan saya dan LCD-nya. Waktu itu saya
diantarkan saudara saya, Sahid. Parahnya, kantornya belum buka. Tiga kali saya
salam dan ketuk pagar, begitu juga akh Sahid, masih tak ada respon. Terpampang
papan nama kantor itu dengan telepon fleksinya. Saya telepon, tapi tak aktif.
Otak ini memutar, berpikir. Aha, saya memilih untuk mencari wartel dan
menelepon beberapa akhawat MIPA yang amanah dakwahnya juga di
sana
, untuk tanya no telepon kantor dakwah
itu . Memang nggak ada ikhwan MIPA yang amanah dakwahnya juga di Sukun, kalo
gak salah inget.
Masuk
ke sebuah gang besar dekat kantor dakwah itu, saya masih dengan akh Sahid,
alhamdulillah ketemu wartel yang sudah buka. Aneh, pagi-pagi (sekitar jam 6.30)
sudah buka. Saya masuk ke bilik, akh Sahid menunggu di halamannya. Dalam proses
telepon itu, tampak seorang bapak tua berpenampilan bersih bertanya kepada akh
Sahid. Dikiranya bapak itu, kami berdua kami mau bepergian jauh. Itu yang
sedikit saya dengar di sela-sela saya telepon seoarng al Ukh. Ternyata, akhwat
itu nggak tahu no teleponnya. Terus telepon akhawat yang lain ke no telepon
kontrakannya, ternyata dia sudah berangkat ke kampus. Gagal saya cari
informasi.
Keluar bilik, bertemu dengan bapak tua
itu. Sambil membayar uang sejumlah enam ratus rupiah, saya sedikit berbincang
dengan bapak tua itu, pakai bahasa Jawa. Dia sangat santun, sopan sekali.
Kurang lebih dialog saya dengannya seperti ini.
”Dugi pundi, Mas? Kulo kinten Mas
bade kesah…” (Dari mana Mas, saya kira Mas mau bepergian)
Saya menjawab, ”Oh…mboten koq Pak”
(Tidak koq Pak)
Beliau tanya lagi, ”Badhe nyambut
damel toh Mas? Nyambut damel wonten pundi?” (Mau kerja to Mas, kerja dimana?)
”Mboten Pak, kulo tasik kuliah,
wonten Unibraw.” (Tidak Pak, saya masih kuliah, di Unibraw)
”Oh… Unibraw. Alhamdulillah… Mas
saged kuliah. Yugo kulo ingkang nomer setunggal inggih kuliah ten Unibraw.
Sakniki pun kerjo ten LIPI” (Oh Unibraw. Anak pertama saya juga kuliah di
Unibraw. Sekarang sudah kerja di LIPI)”
Subhanallah, secara tidak langsung, saya
diingatkan oleh Bapak itu untuk bersyukur karena saya diberi kesempatan oleh
Allah untuk kuliah. Saya pun terus bertanya, ”Jurusan nopo nggih pak? Angkatan tahun pinten Pak?” (Jurusan Apa
Pak? Angkatan tahun berapa Pak?)
”Insya Allah jurusan Biologi,
angkatane kulo kesupen, mpun dangu kok, sakniki larene mpun nggadah keluarga.
Ingkang Yugo kulo liyane mpun dados tiyang sedoyo Alhamdulillah….” (Insya Allah jurusan
Biologi, angkatannya saya lupa, sudah lama kok, sekarang anaknya sudah
berkeluaraga. Anak saya yang lain sudah jadi Orang semua. Alhamdulillah…..)
Setelah bapak itu berkata seperti itu, saya langsung teringat mas Aan,
mantan Kadep Humas Forkalam yang juga lulusan Biologi dan bekerja di LIPI. Tapi
rasannya bukan, karena mas Aan memang bukan Arema.
”Nggih pun Pak, kulo medal riyin,
matur nuwun. Assalamualaikum….” (Ya udah Pak, saya keluar dulu. Terima
Kasih. Assalamualaikum…)
”Wa’alaikumussalam… Sami-sami, kulo
dungaaken Mas cepet lulus, sukses lan dados tiyang sedoyo”
(Wa’alaykumussalam….sama-sama, saya doakan Mas cepat lulus, sukses, dan jadi
Orang semua)
Saya pun mengamini dan tersentuh dengan akhlak dan
doa-doa yang meluncur lembut dari mulut bapak yang teramat sederhana itu.
Keluar dari rumah bapak
itu, saya berpikir keras lagi. Saya harus telepon ke HP akhwat yang kedua tadi.
Saya lihat HP saya, saldo tak mencukupi untuk sms, apalagi untuk telepon.
Terpaksa cari conter HP untuk beli pulsa. Setelah dapat pulsa, saya telepon
akhawat itu dan diberi balasan berupa nomor yang saya inginkan. Alhamdulillah,
saya merasa teman2 panitia lain sudah menunggu lama, terlalu lama.
Kembali ke kantor dakwah, sudah terlihat terbuka, dan LCD pun kami
ambil. Tapi ada masalah, amplop yang berisi surat peminjaman dan uang lima
puluh ribu rupiah itu tidaka ada dalam tas saya. Saya baru teringat, ternyata
ampolop itu tertinggal di wartel tadi. Terpaksa saya tak memberikan jaminan
apa-apa dalam mengambil LCD itu. Sebelum ke tempat dauroh, saya sempatkan,
masih dengan akh sahid, ke wartel tadi.
Innalillah…. wartel itu
tutup. Saya ketuk pintunya lebih dari tiga kali, belum ada respon.
Astaghfirullah……saya menyalahi sunnah Rasul, mengetuk lebih dari tiga kali,
tapi emang penting kok. Saran akh Sahid, tulis saja di kertas yang isinya bahwa
barang saya ketinggalan di wartel ini, minta tolong disimpankan, dan nanti sore
diambil.
Bergegas kami ke tempat daurah. Saya kena iqob (hukuman) karena keterlambatan
saya, push-up 64 kali. Acara daurah dimulai. Dan sampailah pada akhir acara.
Tugas saya selajutnya adalah mengembalikan LCD itu. Hampir maghrib waktu itu.
Klali ini saya sama salah satu al akh peserta dauroh. Rasanya saya terlambat
lagi mengembalikannya, karena akadnya harus kembali sebelum sore. Sebelum ke
kantor dakwah, saya menyempatkan ke wartel yang tadi untuk mengambil amplop
saya yang ketinggalan.
Ah…ternyata wartel itu
tutup. Dua orang siswi SMP berkata kepada saya, “Orangnya masih mandi mas, tunggu saja“. Saya tunggu beberapa saat, Bapak
yang sederhana itu pun keluar sambil memakai peci dan membawa sajadah. Tampak
sebelumnya, dia memasang kertas bertuliskan “SHOLAT“ dari balik kaca bilik wartelnya. Saya ambil
amplopnya dari bapaknya, meskipun dia agak lupa dengan saya. Tapi ketika saya
mengucapkan keyword “mahasiswa Unibraw yang mau kesah (bepergian)“
dia tersenyum tanda ia ingat.
Sejujurnya, belum pernah
saya melihat bapak yang seperti ini. Waktu sholat telah memutus kesibukan ia yang lain. Bahkan ketika itu,
perbincangan kami beliau minimalisir dengan santun, agar beliau nggak
ketinggalan sholat jamaah
Sungguh, banyak hikmah yang bisa saya ambil dari
kisah ini. Dia (Bapak tua pemilik wartel itu) memberikan inspirasi bagi saya
untuk selalu semangat, berjuang pada pagi hari, berakhlak baik, cinta
beribadah, dan hal positif lain. Semoga juga bagi Anda.
Terima kasih Ya Allah…