KKN MARON in my memories (1st testi)
KKN MARON in my memories (1st testi)
Kuliah Kerja Nyata. KKN. Mungkin kata beberapa orang, kegiatan ini adalah salah satu mata kuliah 3 sks. Tapi, mungkin menurut beberapa orang yang lain adalah lebih dari itu. Dan, saya lebih sepakat dan termasuk dari beberapa orang yang kedua. Kata kakak-kakak angkatan saya, ada dua kegiatan waktu kuliah yang tidak mungkin akan dilupakan. Yang pertama adalah kegiatan OSPEK, dan yang kedua adalah KKN.
Sedih, gembira, marah, lapang, sempit, tenang, bingung, kagum, kasihan, berharap, takut, semangat, berani. Perasaan-perasaan yang ambivalen. Itulah sebagian dari aneka karnaval-karnaval jiwa dalam episode kehidupanku dalam 21 hari KKN di desa Maron, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Awaj Rumit. Sehingga memang, kejadian-kejadian di sana, di Maron, insya Allah tidak akan aku lupakan. Beberapa kejadian yang semoga membuatku lebih dewasa. Beberapa permasalahan yang semoga membuatku lebih bersikap arif dan bijaksana. Beberapa keadaan yang semoga membuatku lebih baik dari sebelumnya. Semua yang terjadi di sana, yang semoga membuatku lebih dicintai Allah dan juga bermanfaat bagi Anda, wahai saudaraku pembaca yang budiman. Semoga tidak berlebihan. Amien.
Di sana ada kebersamaan dan kekompakan. Di sana ada kerja sama. Di sana juga ada kesendirian. Di sana ada kerja-kerja nyata, di sana juga ada kerja-kerja aqidah. Di sana ada keramahan, juga ada kedengkian. Hanya Allah yang Mahatahu. Mungkin inilah tarbiyah (pendidikan) Allah untuk meningkatkan kualitas kita. Di sini, kita bisa tahu seberapa besar kualitas kita. Di KKN ini, kita bisa tahu seberapa sabar seseorang, seberapa teguh seseorang. Tapi mungkin terlalu pendek menurutku, waktu 21 hari itu untuk mengetahui seluruh lapisan kepribadian seseorang, begitu kata Anis Matta. Karena sesungguhnya, kita semua memiliki lapisan kepribadian yang secara bertahap membentuk pesona kita.
Lapisan pertama kepribadian kita adalah seluruh bagian-bagian fisik kita yang kemudian membentuk dinamika biologis. Contoh, laki-laki yang berbadan kekar, dengan sorot mata yang tajam dan tetap, biasanya menebarkan rasa aman dalam pandangan orang yang pertama. Tetapi pesona biologis ini akan segera menghilang bersama waktu, karena efek magnetisnya akan tergantikan oleh kekuatan realitas yang memancarkan pesona kedua yang bersifat nonfisik. Misalnya keseimbangan emosionalnya, kekuatan karakternya, arus logikanya, kedalaman unsur spiritualnya, keluasan wawasannya dan prestasi-prestasi nyatanya dan seterusnya.
Ah…, rasanya sudah terlalu dalam kita keluar dari topik dengan bahasa yang mungkin agak berat. Semoga menambah wawasan kita. Maaf.
Kepada semua Maroners, 42 orang saudaraku, terima kasih banyak. Engkau semua adalah pahlawan. Engkau semua luar biasa dan bertanggung jawab. Engkau telah buktikan dengan karya-karya kecilmu yang engkau rakit secara perlahan menjadi karya besar. Kepada semua divisi yang bekerja secara maksimal, divisi kesehatan, divisi pendidikan, divisi sosial ekonomi. Kepada person-person nondivisi. Koordinator Desa, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum. Angkat topi untuk kalian semua. Semoga kita tetap kompak aja. Semoga silaturrahim tetap tersambung, ucapan salam tetap tersampaikan, jabat tangan tetap tampak erat, senyum manis tetap tulus, saling sapa tetap ramah, tolong menolong tetap jadi budaya.
Kepada perangkat desa Maron, seluruh warga, dan khususnya keluarga besar Bu Ning. Allahu Akbar. Semoga Allah membalas kebaikan keluarga besar desa Maron dengan balasan yang lebih baik.
Sebelum semuanya itu, alhamdulillah saya masih diingatkan oleh Allah, mahasiswa ke-43 yang tidak jadi menemani, membantu, dan menyertai kita KKN. Saudari kita tecinta, Rizky Ivonila, aku memanggilnya UKHTIY IVON. Semoga engkau duduk di surga memandang kami bekerja di Maron. Semoga engkau tersenyum dengan hasil-hasil karya kami. Demi Allah, kami tak akan melupakanmu.
Permintaan maaf setulus hati dariku, Wakil Koordinator Desa-mu ini. Wakordes yang ‘tidak bekerja apa-apa’. Maaf karena tidak banyak membantumu. Maaf karena terlalu banyak berkoar-koar waktu rapat, karena kebijakan-kebijakanku, karena instruksi-instruksiku, karena kesalahan-kesalahanku, karena kecerewetanku. Itu semua murni karena diriku dan bagian dari aneka keterbatasanku. Semoga Allah memudahkan hati kita untuk saling memaafkan.
Sungguh aku teringat dengan yel-yel teriakan “KKN FMIPA Maron 2008….TERBAIK!!!”. Semoga itu tidak menjadikan kesombongan pada diri kita, tapi sebagai penambah semangat.
Kepada seluruh peserta KKN MIPA di desa Kendalrejo, Selokajang, dan Ngaglik. Terima kasih dan mohon maaf. Bila ada kesalahan dari Maroners, aku sebagai salah satu pemimpinnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga ghibah-ghibah kita diampuni Allah. Tentang kejadian itu, keberkunjunganmu ke tempat kami, desa Maron, sungguh tidak ada sedikit niatpun dalam hati kami untuk menghinakanmu. Karena sesungguhnya kami menyadari, bahwa semuanya milik Allah, tidak ada yang perlu untuk disombongkan. Kami mohon maaf.
Astaghfirullah……, rasanya sudah terlalu banyak saya berceloteh di sini. Ini mungkin hanya awalan dari beberapa tulisan saya menegenai pengalaman saya di KKN. Semoga Allah memberi kekuatan kepada saya untuk menuliskannya dan memberikan nilai manfaat. Dan semoga Allah memberikan kepada Anda, wahai saudaraku yang aku cintai karena Allah, kekuatan kesabaran dan mengambil kemanfaatan dari tulisan saya ini dan selanjutnya.
Sepulang dari KKN, seorang ikhwan (cowok) bertanya kepadaku, “Bagaiman Akh (saudaraku ) KKN-nya?”. Dengan tersenyum aku menjawab, “Alhamdulillah, Wa Innalillah, Wa Astaghfirullah.” Ya, Semoga Allah menerima semua amalku, kehadiranku di sana bermanfaat, semua kesalahanku dihapuskan, dosa-dosaku diampuni oleh Allah. Dan semua akan kembali kepada Allah. Dan kita semua semakin dicintai Allah. Amien.