Dan pisau pun berbicara……. (1)
Wednesday, January 9th, 2008 Haq dan batil selalu beseteru di
manapun dan kapanpun. Mulai dari zaman Nabi Adam sampai hari akhir nanti. Tak
terkecuali di kampungku, di daerah
Kedungkandang. Dan inilah pengalamanku dan keluargaku dalam bertemunya dua
kekuatan (haq dan batiil) ini. Semoga Allah mengampuni dosa kita semua.
Aku ingat waktu itu adalah hari
Senin, aku merasa dalam hati bukan hari senin seperti biasanya. Entah dalam
hati saya kok nggak enak. Kayaknya ada firasat yang kurang baik. aku coba
menghibur diri “Mungkin hanya perasaanku saja”, begitu dalam hatiku berkata. Tapi
aku berusaha mengisi hari itu dengan akifitas kebaikan. Seperti biasanya, aku
menghadiri kajian senin sore di basement FE bersama ikhwah lain, terus
mengimami sholat Maghrib di Musholla Nurul Ilmi FMIPA, trus hadir di Msjid
Raden Patah untuk ikut kajiannya Ustadz Dwi yang membahas kitab Madarijus
Salikin karya ulama besar, Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Di tengah perjalanan ke
MRP, hp-ku berbunyi, kulihat ada pesan baru. Tenyata dari kakakku yang berada
di rumah. Isi SMS itu adalah melarang aku pulang ke rumah (dalam 2 hari ke
depan) karena ada suatu masalah antara bapakku dan orang2 kampung. Aku kaget
dengan pesan seperti itu.
Sebelum masuk Masjid, aku
menyempatkan diri ke Wartel masjid untuk telepon ke rumah. Ternyata yang
menerima teleponku adalah kakakku. Dari keterangan kakakku, ternyata ada
ketegangan antara bapakku dengan pemuda-pemuda kampung, antara keluargaku
dengan mereka pemuda kampung. Saat pembicaraan di ujung telepon itu
berlangsung, aku mendengar dengan suara yang lirih ada suara tangis dari ibuku,
ya aku mengenal itu suara ibuku. Hal itu membuatku bersedih.
Dua hari kemudian aku pulang.
Dan ternyata setelah mendengar cerita dari beberapa orang dan keluargaku, yang
tejadi pada hari senin waktu siang itu sungguh sangat mengerikan. Bebrapa
pemuda sambil dalam keadaan mabuk dan membawa senjata tajam mendatangi rumahku,
untuk mencari Bapakku. Kebetulan bapakku waktu itu sedang kerja ke luar kota.
Ibuku juga masih ada di pasar. Kakakku sedang ada di countermya, bisnis yang
sedang ia bangun, sedangkan adikku masih ada di sekolah. Praktis tidak ada
seorangpun yang berada di rumah.
Setelah mencari Bapakku nggak
ketemu, mereka mengadakan pesta miras sambil membawa senjata tajam di jalan
utama kampungku. Hal itu dilakukan di siang bolong. Saat semua warga mengetahui
hal itu. Saking parahnya, toko-toko di kampungku pada tutup semua, anak-anak
disuruh pulang, dan pintu jendela semua rumah ditutup rapat. Astaghfirullahal ‘adzim. Semua orang di kampung semuanya
takut nggak berani keluar rumah. Boleh dibilang, menurutku, kampungku dalam
keadaan status Siaga 1.
Setelah ditelusuri, penyebab
mereka semuanya marah kepada Bapakku adalah mereka menuduh bahwa aktifitas
mereka (mabuk dan judi yang dilakukan di poskamling RT03, kebetulan di tengah
keramaian, di pingir jalan, dekat Musholla, siang malam , tak terkecuali di
bulan Ramadhan)dilaporkan ke aparat kepolisian oleh Bapakku. Padahal tidak.
Bapakku hanya menyuruh mereka untuk tidak melakukan hal itu semua di tempat umum,
yakni di poskamling RT 03 (kebetulan Bapakku adalh ketua RT03), tetapi di
samping sungai. Itu artinya bukan Bapakku setuju dengan kelakuan mereka, tetapi
meminimalisir hal2 yang tidak diinginkan.
Sebetulnya Bapakku jelas sangat
tidak setuju dengan aktifitas mereka. Mereka sudah cukup mengganggu warga.
Namun, semua warga tidak berani menegurnya. Tak terkecuali para pengurus RW,
para ketua RT yang lain, bahkan Kyai (sesepuh kampung). Allahu Akbar
Ya Allah, ampunilah semua
dosa-dosa kami. Sayangi kami Ya Allah.
Bimbing kami Ya Allah, beri petunjuk kami Ya Rabb. Lindungi kami dari
orang-orang yang tidak mengerti Ya Allah…..