Archive for July, 2007

Amanah Besar Itu…., Mengurus Baitullah

Friday, July 20th, 2007

     Saya bingung harus memulai menulis dari mana. Maklum, masih dalam tahap belajar menulis. Dan saya pun tidak bisa menjawab, apabila ditanya mengapa saya harus memulai menulis tentang ini. Ah, biarlah. Saya hanya bisa berdoa agar tulisan saya ini bermanfaat bagi orang lain.       

         
        Amanah ini, mengurus Baitullah, saya emban mulai antara akhir semester dua-awal semester tiga. Selama satu tahun, saya kuliah pulang-pergi ke kampus. Rumahku berjarak sekitar 5-6 km dari kampus. Tepatnya di daerah Kedungkandang, Malang Timur (tapi masih Kotamadya Malang lho). Ke kampusnya sering ganti-ganti transport. Pernah pakai sepeda motor tua ‘Prima’ milik kakak (alhamdulillah sekarang sudah ditipkan ke saya), walaupun saat itu belum mengantongi SIM. Selama pakai sepeda motor, saya juga pinjam SIM milik kakak (alhamdulillah sekarang dah punya sendiri). Dan saya bersyukur, sampai sekarang nggak pernah kena tilang Silup (Polisi maksudnya he..he..he.). Pernah pakai sepeda pancal, naik angkot, dan bareng (nebeng) temen. Yang nggak pernah, jalan kaki. Suatu saat insya Allah saya pingin coba. Sekedar mengingat-ingat, selama 2 tahun di SMA, saya pulang-pergi jalan kaki untuk bersekolah (mungkin sekitar 3-4 km).          

 
        Karena banyak jeda waktu antar jadwal kuliah, selama setahun, kalo ada waktu kosong, biasanya kalo gak ke perpus (ngerjain laporan), ke kos temen, ya ke musholla. Mungklin saking terlalu seringnya ke Musholla, takmir waktu itu bosen liat saya. Dan akhirnya…. tawaran itu pun datang (bukan tawaran nikah lhoo, ups!). Tawaran menjadi takmir. Kebetulan takmir waktu itu akan segera lulus, sedangkan partnernya sesama takmir segera pindah (keluar dari takmir). Dan saya pun ditawari. Setelah mendengar itu, di hati saya pun masih fifty-fifty. Antara menerima dan tidak. Saya diskusikan bersama keluarga, dan keluarga merestui saya untuk mengemban Amanah Besar itu.
        Tujuan saya menjadi takmir Musholla Nurul Ilmi FMIPA Universitas Brawijaya tercinta ini insya Allah ibadallah. Ingin memperbaiki kegiatan, sarana, prasarana, fasilitas, dan pelayanan ummat. Tak semudah yang saya bayangkan, ternyata amanah ini sungguh sangat berat. Harus bisa mengatur waktu. Diusahakan semaksimal mungkin selalu standby pada waktu-waktu sholat. Sebelum jam 6 pagi, setiap hari, bangunan ini harus sudah dalam keadaan bersih dan sudah siap untuk segala aktivitas kebaikan, seperti sholat, belajar, halaqoh/liqo’, diskusi keagamaan, kultum, syuro, mungkin kajian, atau mungkin ‘hanya’ silaturrahim antar saudara sesama muslim se-aqidah. Bahkan, mulai bulan Maret 2007, Musholla mungil ini mengadakan sholat Jumat. Jadi ada amanah tambahan, mencari khotib. Selain itu, yang pasti, bertanggung jawab sepenuhnya atas musholla ini.               

 
        Saya menyadari, amanah ini menunutut kedisiplinan yang ekstra. Amanah yang menguras banyak tenaga, pikiran, dan waktu. Mungkin masak sendiri (kalo nggak males) salah satu kegiatan tambahan saya. Walaupun masak sangat sederhana sekali (seperti menggoreng krupuk, menggoreng telur, masak mie instant, masak nasi pake rice cooker, dan mungkin masak sayur direbus tanpa dikasih bumbu-maklum, nggak bisa masak yang aneh2 seperti para ibu2-) itu sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuk aja. Kalo lagi males masak, mungkin beli kue/Weci di Pak To Hutan MIPA, beli lauk & sayur di warung. Atau bahakan sering juga makan pake lauk Pilus/krupuk aja (yang sering pas sahur Ramadhan), pake kecap aja. Suatu pengalaman luar biasa bagi saya pribadi. Kalo pas ada rizki (dan kalo gak nanak nasi), ya sesekali marung (beli makan di warung). Sering juga ada lauk/sayur dari mas Syaiful, partner takmir 1 kamar. Atau pas beruntung, ada suatu bungkusan ‘misterius’ ( biasanya berupa snack, buah, atau bahkan pernah juga nasi) pemberian jama’ah MNI. Semoga Allah menerima kebaikan beliau dan mengganti kebaikannya dengan yang lebih baik. Ehhhh…. afwan, koq malah ngomongin makanan.
        Sudah satu tahun saya menunaikan amanah itu.

                Banyak kesan-keasan pahit atau manis selama menunaikan amanah ini. Sebetulnya, niat saya yang lain adalah ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Saya sempat diberi nasihat oleh seorang al-akh. Beliau bercerita tentang dua sahabat Tabi’in, Abdullah ibnu Mubarok dan Fudhail bin Iyadh. Sebetulnya sejarah ini sudah saya dengar, yaitu ketika Fudhail bin Iyadh sang ahli ibadah di Masjidil Haram sedang tekun beribadah di Masjidil Haram. Lalu sahabatnya, Abdullah ibnu Mubarok seorang ahli fiqh dan hadist yang sedang dalam keadaan bertempur dengan tentara kuffar, mengirim surat kepada Fudhail bin Iyadh yang berisi untaian bait syair berikut ini,

Wahai orang yang sedang tekun beribadah di Masjidil Haram…

Andai engkau mengetahui kami…

Niscaya engkau akan menyadari, ibadahmu bernilai main-main…

Jika pipimu basah oleh linangan air mata…

Maka leher kami basah dengan tetesan darah…

Jika kudamu lelah untuk hal yang sia-sia…

Maka kuda kami lelah dalam sengitnya pertempuran…

Bau harum wewangian untukmu…

Sedangkan wewangian kami…

Adalah kepulan debu yang diterbangkan kaki-kaki kuda…

        Kemudian beliau meneruskan, ” Tekun beribadah di Masjidil Haram pada saat kehormatan kaum muslimin dinodai dan darah mereka ditumpahkan serta agama Allah dihalau dari suatu negeri, adalah perbuatan mempermainkan agama Allah”.

Saya langsung takut mendengar lagi cerita itu, apalagi ketika dibacakan kepada saya surah At-Taubah ayat 19-20 yang artinya

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah: 19-20)

            Suatu malam , saya merenungkan ayat Allah itu, dan saya merasa sangat takut, hati saya bergetar, dan air mata pun meleleh . Saya takut kalau saya termasuk kaum yang zhalim. Jazakallah kepada akhuna yang menasihati saya itu. Bahwa memang kata Sayyid Quthb, ayat-ayat Allah yang suci hanya bisa dipahami secara benar oleh orang-orang yang bergerak dan bekerja dalam bidang harakiah. Dilanjutkan oleh Asy Syahid Dr Abdullah Azzam bahwa nash-nash yang suci ini hanya bisa dimengerti secara integral dan komprehensif oleh orang-orang yang turun langsung berjihad di jalan Allah. Dan saya pun berdoa agar saya termasuk orang-orang yang memperjuangkan agama Allah.

        Kesan yang tak terlupakan adalah saat-saat yang berusaha tak tergantikan dengan kegiatan lain. Kapan itu? Yaitu ketika setiap pagi sebelum jam 6 pagi, di MNI, dalam keadaan tenang, tanpa suara apapun (suara orang, musik-musik dari HMJ, dll), kecuali suara kicauan burung yang indah. Pada saat itulah saya lebih khusyuk untuk membaca & berusaha menambah hafalan Quran dengan suara yang agak keras. Indah, tenang, khusyuk, dan nikmat. Maklum, setelah jam itu, suasana MNI tidak lagi kondusif untuk melakukan hal seperti itu.

               
        Entah sampai kapan saya mengemban amanah ini. Ada masukan dari seorang al-akh, saya boleh keluar (gak jadi takmir MNI lagi maksudnya) kalo saya sudah hafal 4 atau 5 juz dari Al Quran. Haah???. Tapi beliau bilang bahwa saya pasti bisa, jangankan 5 juz, 30 juz pun bisa. Amin. Tapi yang pasti, kalo saya sudah bukan berpredikat menjadi mahasiswa MIPA UB lagi, saya bukan takmir lagi.

                                                Astaghfirullahal’adzhim. Sudah terlalu banyak amanah terkait takmir ini yang belum saya tunaikan. Sudah terlalu banyak kedholiman yang ana lakukan kepada jamaah, anggota Forkalam, dan masjid ini. Mukenah yang ‘beraroma’ dan tak terurus, tanama-tanaman MNI yang terdholimi, keadaan yang kurang bersih dan kurang nyaman, hak-hak ukhuwah kepada jamaah, keamanan yang mungkin kurang kondusif, waktu-waktu yang sebetulnya buat kultum tapi kosong, perpustakaan MNI yang nggak rapi dan selalu tutup, adzan yang telat dari waktunya, mading yang kosong tanpa artikel dan telat masangnya, dan masih sangat banyak lagi.‘Afwan jiddan kepada semua jamaah, mahasiswa MIPA pengguna MNI, anggota Forkalam yang sering sobo ke MNI, tetangga-tetangga penghuni tetap MIPA, ketua takmir, birokrasi yang terkait dengan MNI, dan semuanya yang pernah ke MNI. Sungguh, salah satu yang membuat saya bahagia di MNI adalah melihat wajah-wajah ikhlas, cerah, sabar, dan terasa pancaran ukhuwahnya dari para aktivis dakwah kampus, terutama Forkalam. Engkau bagaikan mutiara yang tak ternilai harganya. Pemuda yang tidak egois. Kuliah sekaligus berjuang demi agamanya. Ana uhibbukum fillah, ikhwah….. Semoga Allah memudahkan jalan kita ke surga-Nya kelak. Amin.