Wednesday, November 22nd, 2006
Jika Esok Tak Pernah Datang
15 Agu 06 07:45 WIB
( Bayu Gawtama )
Setiap bangun tidur dan membuka mata, yang terucap adalah kalimat syukur
bahwa Allah masih mengizinkan diri ini kembali melihat fajar. Merasai hembusan
angin pagi yang menerobos celah jendela, dan menjumpai semua yang semalam
terlihat sebelum mata terpejam masih seperti sedia kala, tidak ada yang
berubah.
Kemudian melangkahlah dengan iringan doa di gerbang mungil menuju arena
perjuangan kehidupan. Dengan tuntunan-Nya lah diri ini tak melangkah ke jalan
yang salah, tak menjamah yang bukan hak, tak melihat yang dilarang, tak memamah
yang tak halal, tak mendengar yang batil, dan tak banyak melakukan yang
sia-sia. Karena setiap waktu yang terlewati pasti akan ditagih
tanggungjawabnya. Lantaran semua jalan yang dilalui akan dimintai kesaksiannya
atas diri ini. Dan sebab seluruh indera ini akan diminta bicara tentang apa-apa
yang pernah tercipta.
Hari ini, masih ada lalai terbuat. Masih juga lengah sehingga khilaf
tercipta. Meski segunung tausyiah pernah didengar, mulut ini masih terselip
berucap dusta, saringan telinga ini tetap tak mampu membendung suara-suara
melenakan, dan masih saja ada perbuatan yang salah, walau itu dalam bingkai
alpa. Padahal, di setiap terminal ruhiyah, sedikitnya lima kali sehari lidah
ini berucap, tangan ini tertengadah, dan mata menitikkan butir bening, seraya
memohon perlindungan dari Allah dijauhkan dari salah dan dosa. Tetapi, masih
juga langkah ini menuju arah yang sesat.
Setiap hari menangis, setiap hari meminta ampunan, setiap hari berbuat
salah. Hari ini mencipta dosa, esok sibuk bersujud, meluluhkan air mata,
menyusun kalimat doa, menganyam pinta semoga Allah menghapusnya dalam sekejap.
Detik ini berbuat salah, terlalu lama menghapusnya, bahkan kadang lupa.
Padahal, bisa saja sedetik kemudian diri ini tak lagi sempat memohon ampunan.
Lupakah bahwa waktu sangat cepat berlalu. Lupakah pula bahwa menyesal di
akhirat hanyalah kesiaan yang nyata?
Bagaimana jika hari esok tak pernah datang, padahal baru saja seharian ini
berenang di lautan dosa. Padahal belum sempat menghapus noda hari ini, kemarin,
sepekan yang lalu, setahun lalu, dan bertahun-tahun yang lalu. Bagaimana jika
Allah tak berkenan membukakan mata kita setelah sepanjang malam terlelap?
bagaimana jika perjumpaan dan canda riang bersama keluarga semalam adalah yang
terakhir kalinya. Ketika esok harinya ruh ini melihat seluruh keluarga menangisi
jasad diri yang terbujur kaku berkafan putih.
Bagaimana jika matahari esok terbit dari barat, tak seperti biasanya dari
timur? Padahal hari ini lupa menyebut nama-Nya. Padahal di hari ini, belum
sempat mengunjungi satu persatu keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, dan
orang-orang yang pernah tersakiti oleh lidah dan tindakan kita. Sudah terlalu
lama tak mencium kaki orang tua mencari keridhaannya, walau tak terhitung salah
diri. Belum lagi sempat berderma, setelah derma kecil beberapa tahun lalu yang
sering kita banggakan.
Dan jika memang esok tak pernah datang. Sungguh celakalah diri ini.
Benar-benar celaka, bila belum sempat mencuci dosa sepanjang hidup. Bila belum
mendengar ungkapan maaf dari orang-orang yang pernah terzalimi, bila belum
menyisihkan harta yang menjadi hak orang lain, bila belum sempat meminta ampun
atas segala salah dan khilaf yang tercipta.
Maka, saat pagi ini Allah masih memperkenankan diri menikmati fajar,
mulaikan hari dengan kalimat, “terima kasih, Allah” (Gaw)