Lirik Nasyid “Izzatul Islam - Sang Murabbi”

July 6th, 2008 by mahatirkusumahalik

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
h3
{mso-margin-top-alt:auto;
margin-right:0cm;
mso-margin-bottom-alt:auto;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
mso-outline-level:3;
font-size:13.5pt;
font-family:"Times New Roman";
font-weight:bold;}
p
{mso-margin-top-alt:auto;
margin-right:0cm;
mso-margin-bottom-alt:auto;
margin-left:0cm;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
–>

Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi
Ribuan langkah kau tapaki
Pelosok negri kau sambangi

Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu
Tanpa kenal lelah jemu
Sampaikan firman Tuhanmu

Terik matahari
Tak surutkan langkahmu
Deru hujan badai
Tak lunturkan azzammu

Raga kan terluka
Tak jerikan nyalimu
Fatamorgana dunia
Tak silaukan pandangmu

Semua makhluk bertasbih
Panjatkan ampun bagimu
Semua makhluk berdoa
Limpahkan rahmat atasmu

Duhai pewaris nabi
Duka fana tak berarti
Surga kekal dan abadi
Balasan ikhlas di hati

Cerah hati kami
Kau semai nilai nan suci
Tegak panji Illahi
Bangkit generasi Robbani

Lelaki Serba Hitam dan Pernikahan

July 6th, 2008 by mahatirkusumahalik

<!–
/* Style Definitions */
p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal
{mso-style-parent:"";
margin:0cm;
margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:"Times New Roman";
mso-fareast-font-family:"Times New Roman";}
@page Section1
{size:612.0pt 792.0pt;
margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;
mso-header-margin:36.0pt;
mso-footer-margin:36.0pt;
mso-paper-source:0;}
div.Section1
{page:Section1;}
/* List Definitions */
@list l0
{mso-list-id:12802385;
mso-list-type:hybrid;
mso-list-template-ids:478594420 -240776942 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;}
@list l0:level1
{mso-level-tab-stop:36.0pt;
mso-level-number-position:left;
text-indent:-18.0pt;}
ol
{margin-bottom:0cm;}
ul
{margin-bottom:0cm;}
–>

Lelaki Serba Hitam dan Pernikahan

3 Rajab 1429 H / 6 Juli 2008

Entah
ada hubungannya atau tidak di setiap episode-episode kehidupan kita. Tapi
mungkin, kalu Anda membaca pengalaman saya, mungkin Anda percaya. Dan saya
hanya yakin bahwa semua itu adalah keputusan terbaik yang Allah berikan untuk
saya.

Hari
itu saya kembali pulih dari rasa capek saya, akibat perjalanan PP
Malang-Mojokerto dengan naik sepeda motor, untuk memenuhi undangan walimah
mantan pengurus LDK Forkalam, kemarin. Karena capek saya sudah hilang, saya
manfaatkan paginya untuk bersih2 rumah, bantu ortu di pasar, agak siangan ikut
agenda dakwah di kampung. Maghrib saya sudah di kampus.

Ba’da
isya’, di tengah saya bertilawah Al Quran, ada orang berpakaian hitam-hitam
masuk ke mushola (MNI), dia sudah agak tua, berjenggot, dan memegang tas
pegangan, warna hitam juga. Kayak musafir lah. Dilihat dari fisiknya, saya
yakin dia bukan orang kampus, meskipun saya pernah sekali melihat dia sedang
beristirahat, juga di MNI. Dilihat dari
wajahnya, rupanya dia kelelahan dan benar, dia tidur. Saya biarkan. Karena
memang biasanya MNI sering buat ‘rujukan’ orang-orang untuk menginap, kalo
mungkin dia kemalaman.

Setelah
itu saya teringat kalau saudara saya, akh Sahid, mantan Ketum Forkalam, mau
pinjam buku saya, buku tentang pernikahan yang cukup lengkap, yang dari dulu
memang ingin saya miliki, Barakallahu Laka…. Bahagianya Merayakan Cinta, karya
ustadz Salim A Fillah.
Dan saya juga baru ingat bahwa besok adalah hari
Senin. Jadi besok harus shoum, dan malam ini harus beli nasi. Saya ngajak akh
Suhaimi, partner takmir ana, beli nasi untuk makan sahur dan sekalian mampir ke
kontrakan akh Sahid untuk nganterin buku pesenan beliau. Uang saya ambil, dan
buku saya keluarkan dari kamar. Kita berangkat pake sepeda motor.

Nyampe pintu gerbang veteran, sebelum keluar
kampus, saya teringat kalo bukunya tertinggal di Musholla. Kami kembali untuk
mengambilnya. Ternyata buku itu sudah tidak ada. Kami cari-cari juga gak
ketemu. Sekret Forkam pun juga kami periksa. Tak ada hasil signifikan. Semua
tempat sekitar situ bahkan. Tetap. Ngga’ ketemu. Anehnya, orang serba hitam
yang tidur tadi juga gak ada. ”Su’udzan” ana, dia yang ngambil (kalo tidak mau
disebut mencuri). Alasannya, waktu dia datang ke MNI, tingkahnya sangat
mencurigakan, tak seperti musafir-musafir biasanya.

Tak terasa hati ini memuji sang Rabbi, ”Alhamdulillahi
’ala kulli hal” (Segala puji bagi Allah dalam setiap hal). Tapi tetap, ada
perasaan tidak ikhlas menyusup halus ke hati saya. Segera saya berucap,
”Astaghfirullah”.

Analisis saya terhadap diri saya (evaluasi) pasca
kehilangan buku yang cukup tebal itu, kemungkinannya sebagai berikut

  1. Hukuman

Ini adalah hukuman yang Allah berikan kepada saya
karena saya adalah salah satu hamba-Nya yang sering bermaksiat, melampaui
batas, jarang mengingat-Nya, tidak mematuhi syariat-Nya dan tindakan2 kufur
lainnya. Mungkin Allah menginginkan saya segera keluar dari lubang hitam itu.
Semoga Anda juga.

  1. Harta
         saya syubhat, bahkan haram. Atau mungkin ada hak orang lain dalam harta
         saya.
    Sehingga Allah ’mengenakan pajak’ kepada saya berupa buku tadi.
  2. Terlalu
         cinta pada dunia
    . Sampai-sampai mungkin melebihi cinta saya kepada Allah
         dan Rasul-Nya. Astaghfirullah…. Sehingga Allah mengajari kepada saya
         tentang hakikat cinta melalui kejadian ini.
  3. Jarang
         berinfaq
    , entah berupa uang , makanan, buku, atau yang lain. Sehingga
         Allah melatih saya lewat kejadian ini.
  4. Saya
         orang yang sangat teledor
    . Allah mengingatkan saya agar gak terlalu sering
         menjadi ikhwan yang teledor.
  5. Mungkin
         yang terakhir dari kemungkinan2 saya: Allah menyuruh saya segera menikah
         (ups..???!!! GR nih..).
    Allah nggak mau ilmu2-Nya tentang niatan,
         mempersiapkan menikah, tata cara menikah syar’i, ma’isyah, pembentukan
         rumah tanggga sakinah mawaddah wa rahmah, bertetangga dan bermasyarakat,
         dll hanya ada di otak saya sebagai tsaqofah saja atau di atas kertas
         sebagai literatur dan referensi saja. Mengingat saya banyak undangan menikah juga, kemarin mantan kaput, besok paman saya, kamis depan akh Furqan, dan mungkin nnti ada lg ikhwah yg nikah. (Siapa ya…???) Jadi Allah ingin saya: Learning by
         Doing…(cyee…)

 

Hanya itu evalusi saya, mungkin bagi Anda yang mau
menambahkan kami persilahkan. Tafadhol. Agar saya dapat memaknai setiap
jenak-jenak kehidupan.

Terima kasih ya sudah membaca. Semoga Allah
mencatat ini sebagai amal baik Anda yang diterima.

Maaf kalo judulnya agak nggak nyambung, susah mikir…., n teknik marketing saya (biar banyak yang baca, hehehe)

 

Salam Satu Jiwa. Salam Cinta dan Keadilan.

 

 

Bapak Tua Pemilik Wartel Itu…..

April 27th, 2008 by mahatirkusumahalik

Bapak Tua Pemilik Wartel Itu…..

Dalam
sebuah kepanitiaan Daurah (pelatihan) bagi temen2 aktivis dakwah kampus, saya
waktu itu sebagai penanggung jawab peminjaman LCD. Alhamdulillah saya sudah
dapat. Tinggal ngambil dan bayar. Pas hari H dauroh itu, pagi-pagi sekali saya
ambil LCD itu, tepatnya di kantor dakwah Hizbul
‘Adalah
di daerah Sukun. Teman-teman
panitia sudah menunggu kedatangan saya dan LCD-nya.
Waktu itu saya
diantarkan saudara saya, Sahid. Parahnya, kantornya belum buka. Tiga kali saya
salam dan ketuk pagar, begitu juga akh Sahid, masih tak ada respon. Terpampang
papan nama kantor itu dengan telepon fleksinya. Saya telepon, tapi tak aktif.
Otak ini memutar, berpikir. Aha, saya memilih untuk mencari wartel dan
menelepon beberapa akhawat MIPA yang amanah dakwahnya juga di

sana

, untuk tanya no telepon kantor dakwah
itu . Memang nggak ada ikhwan MIPA yang amanah dakwahnya juga di Sukun, kalo
gak salah inget.

Masuk
ke sebuah gang besar dekat kantor dakwah itu, saya masih dengan akh Sahid,
alhamdulillah ketemu wartel yang sudah buka. Aneh, pagi-pagi (sekitar jam 6.30)
sudah buka. Saya masuk ke bilik, akh Sahid menunggu di halamannya. Dalam proses
telepon itu, tampak seorang bapak tua berpenampilan bersih bertanya kepada akh
Sahid. Dikiranya bapak itu, kami berdua kami mau bepergian jauh. Itu yang
sedikit saya dengar di sela-sela saya telepon seoarng al Ukh. Ternyata, akhwat
itu nggak tahu no teleponnya. Terus telepon akhawat yang lain ke no telepon
kontrakannya, ternyata dia sudah berangkat ke kampus. Gagal saya cari
informasi.

Keluar bilik, bertemu dengan bapak tua
itu. Sambil membayar uang sejumlah enam ratus rupiah, saya sedikit berbincang
dengan bapak tua itu, pakai bahasa Jawa. Dia sangat santun, sopan sekali.
Kurang lebih dialog saya dengannya seperti ini.

Dugi pundi, Mas? Kulo kinten Mas
bade kesah…
” (Dari mana Mas, saya kira Mas mau bepergian)

Saya menjawab, ”Oh…mboten koq Pak
(Tidak koq Pak)

Beliau tanya lagi, ”Badhe nyambut
damel toh Mas? Nyambut damel wonten pundi?
” (Mau kerja to Mas, kerja dimana?)

Mboten Pak, kulo tasik kuliah,
wonten Unibraw
.” (Tidak Pak, saya masih kuliah, di Unibraw)

Oh… Unibraw. Alhamdulillah… Mas
saged kuliah. Yugo kulo ingkang nomer setunggal inggih kuliah ten Unibraw.
Sakniki pun kerjo ten LIPI
” (Oh Unibraw. Anak pertama saya juga kuliah di
Unibraw. Sekarang sudah kerja di LIPI)”

Subhanallah, secara tidak langsung, saya
diingatkan oleh Bapak itu untuk bersyukur karena saya diberi kesempatan oleh
Allah untuk kuliah. Saya pun terus bertanya, ”Jurusan nopo nggih pak? Angkatan tahun pinten Pak?” (Jurusan Apa
Pak? Angkatan tahun berapa Pak?)

Insya Allah jurusan Biologi,
angkatane kulo kesupen, mpun dangu kok, sakniki larene mpun nggadah keluarga.
Ingkang Yugo kulo liyane mpun dados tiyang sedoyo Alhamdulillah
….” (Insya Allah jurusan
Biologi, angkatannya saya lupa, sudah lama kok, sekarang anaknya sudah
berkeluaraga. Anak saya yang lain sudah jadi Orang semua. Alhamdulillah…..)

Setelah bapak itu berkata seperti itu, saya langsung teringat mas Aan,
mantan Kadep Humas Forkalam yang juga lulusan Biologi dan bekerja di LIPI. Tapi
rasannya bukan, karena mas Aan memang bukan Arema.

Nggih pun Pak, kulo medal riyin,
matur nuwun. Assalamualaikum….
” (Ya udah Pak, saya keluar dulu. Terima
Kasih. Assalamualaikum…)

Wa’alaikumussalam… Sami-sami, kulo
dungaaken Mas cepet lulus, sukses lan dados tiyang sedoyo

(Wa’alaykumussalam….sama-sama, saya doakan Mas cepat lulus, sukses, dan jadi
Orang semua)

Saya pun mengamini dan tersentuh dengan akhlak dan
doa-doa yang meluncur lembut dari mulut bapak yang teramat sederhana itu.

Keluar dari rumah bapak
itu, saya berpikir keras lagi. Saya harus telepon ke HP akhwat yang kedua tadi.
Saya lihat HP saya, saldo tak mencukupi untuk sms, apalagi untuk telepon.
Terpaksa cari conter HP untuk beli pulsa. Setelah dapat pulsa, saya telepon
akhawat itu dan diberi balasan berupa nomor yang saya inginkan. Alhamdulillah,
saya merasa teman2 panitia lain sudah menunggu lama, terlalu lama.

Kembali ke kantor dakwah, sudah terlihat terbuka, dan LCD pun kami
ambil. Tapi ada masalah, amplop yang berisi surat peminjaman dan uang lima
puluh ribu rupiah itu tidaka ada dalam tas saya. Saya baru teringat, ternyata
ampolop itu tertinggal di wartel tadi. Terpaksa saya tak memberikan jaminan
apa-apa dalam mengambil LCD itu. Sebelum ke tempat dauroh, saya sempatkan,
masih dengan akh sahid, ke wartel tadi.

Innalillah…. wartel itu
tutup. Saya ketuk pintunya lebih dari tiga kali, belum ada respon.
Astaghfirullah……saya menyalahi sunnah Rasul, mengetuk lebih dari tiga kali,
tapi emang penting kok. Saran akh Sahid, tulis saja di kertas yang isinya bahwa
barang saya ketinggalan di wartel ini, minta tolong disimpankan, dan nanti sore
diambil.

 Bergegas kami ke tempat daurah. Saya kena iqob (hukuman) karena keterlambatan
saya, push-up 64 kali. Acara daurah dimulai. Dan sampailah pada akhir acara.
Tugas saya selajutnya adalah mengembalikan LCD itu. Hampir maghrib waktu itu.
Klali ini saya sama salah satu al akh peserta dauroh. Rasanya saya terlambat
lagi mengembalikannya, karena akadnya harus kembali sebelum sore. Sebelum ke
kantor dakwah, saya menyempatkan ke wartel yang tadi untuk mengambil amplop
saya yang ketinggalan.

Ah…ternyata wartel itu
tutup. Dua orang siswi SMP berkata kepada saya,
Orangnya masih mandi mas, tunggu saja“. Saya tunggu beberapa saat, Bapak
yang sederhana itu pun keluar sambil memakai peci dan membawa sajadah. Tampak
sebelumnya, dia memasang kertas bertuliskan
SHOLAT“ dari balik kaca bilik wartelnya. Saya ambil
amplopnya dari bapaknya, meskipun dia agak lupa dengan saya. Tapi ketika saya
mengucapkan keyword
mahasiswa Unibraw yang mau kesah (bepergian)“
dia tersenyum tanda ia ingat.

Sejujurnya, belum pernah
saya melihat bapak yang seperti ini.
Waktu sholat telah memutus kesibukan ia yang lain. Bahkan ketika itu,
perbincangan kami beliau minimalisir dengan santun, agar beliau nggak
ketinggalan sholat jamaah

 Sungguh, banyak hikmah yang bisa saya ambil dari
kisah ini. Dia (Bapak tua pemilik wartel itu) memberikan inspirasi bagi saya
untuk selalu semangat, berjuang pada pagi hari, berakhlak baik, cinta
beribadah, dan hal positif lain. Semoga juga bagi Anda.

Terima kasih Ya Allah…

Cerita Ibuku Itu…

April 18th, 2008 by mahatirkusumahalik

    Maaf, pembaca yang bidiman, ini cerita tentang saya. disampaikan oleh ibuku tercinta.
    Seperti biasa, saya saat itu sedang bantu Ibu di pasar. dan seperti biasanya saya mendengar beberapa ibu2 dan para istri berbicara mengenai keluarganya. Misalkan ketidaksukaan para istri soal suaminya yang perokok, kebandelan anaknya, dll. Mungkin saya salah satu dari sekian banyak pemuda yang sering mendengar permasalahan2 seperti ini.
    suatu waktu, seorang Ibu bervcerita pada Ibu saya bahwa anak bayinya, rasanya, ada masalah dalam perkebangan kesehatannya. dia takut. Tapi ib uku mensarankan ke dia untuk selalu intensif berkunjung ke puskesmas atau dokter. tapi ibuku juga berbicara ke dia tentang pentingnya asupan makanan si bayi.
    Di sela pembicaraan, Ibuku bercerita tentang saya. Kata beliau, ketika Ibu saya mengandung saya sampai umur akhir balita, kondisi ekonomi keluarga saya waktu itu adalah bisa dibilang sangat memprihatinkan. Asupan gizi yang ibu konsumsi sangat kurang ketika Ibu mengandungku, juga waktu bayi smapai akhir balita saya.
 Ibuku berkata, "Awakmu iku ajaib lho Tir. Pas meteng sampe balita penggaweane ibukmu ambek bapakmu iku pas angel-angele. Duwik pas-pasan. Wis pokoke melas dibandingno ambe metenge masmu ambe metenge adikmu. Awakmu iku nggak tau diombeni susu sing macem-mecem, mek susu ASI tok. Panganan yo sak onoke. Tapi ajaibe, waktu iku awakmu iku sak duluran paling lemu dewe, paling seger dewe."
(
Kamu itu ajaib lho Tir. Waktu mengandung kamu sampai balita, pekerjaan ibumu dan bapakmu itu pas sulit-sulitnya. Uang pas-pasan. Udah, pokonya paling kasihan dibandingkan dengan pas mengandung kakak kamu atau adik kamu. Kamu itu  nggak pernah diminumi susu yang macam2, cuma ASI tok. Makanan ya seadanya. tetapi ajaibnya,  kamu itu dibandingkan dengan saudaramu yang lain paling gemuk dan paling seger)
    Saya nggak akan memperhatikan kenapa saya kok gemuyk, cz itu di luar keilmuan saya. tapi yang saya hampir menangis  ketika merenungkannya adalah  kondisi ekonomi keluarga saya waktu ityu, dan semangt ibu saya ketika mengasuh saya.
         Duhai Ya Allah, kasiihilah kedua orang tua saya, sayangi mereka, bimbing mereka Ya Allah,. Kumpulkan kami ke dalam surgamu Ya Allah…..

KKN MARON in my memories (1st testi)

February 22nd, 2008 by mahatirkusumahalik

KKN MARON in my memories (1st testi)

        Kuliah Kerja Nyata. KKN. Mungkin kata beberapa orang, kegiatan ini adalah salah satu mata kuliah 3 sks. Tapi, mungkin menurut beberapa orang yang lain adalah lebih dari itu. Dan, saya lebih sepakat dan termasuk dari beberapa orang yang kedua. Kata kakak-kakak angkatan saya, ada dua kegiatan waktu kuliah yang tidak mungkin akan dilupakan. Yang pertama adalah kegiatan OSPEK, dan yang kedua adalah KKN.

        Sedih, gembira, marah, lapang, sempit, tenang, bingung, kagum, kasihan, berharap, takut, semangat, berani. Perasaan-perasaan yang ambivalen. Itulah sebagian dari aneka karnaval-karnaval jiwa dalam episode kehidupanku dalam 21 hari KKN di desa Maron, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Awaj Rumit. Sehingga memang, kejadian-kejadian di sana, di Maron, insya Allah tidak akan aku lupakan. Beberapa kejadian yang semoga membuatku lebih dewasa. Beberapa permasalahan yang semoga membuatku lebih bersikap arif dan bijaksana. Beberapa keadaan yang semoga membuatku lebih baik dari sebelumnya. Semua yang terjadi di sana, yang semoga membuatku lebih dicintai Allah dan juga bermanfaat bagi Anda, wahai saudaraku pembaca yang budiman. Semoga tidak berlebihan. Amien.

        Di sana ada kebersamaan dan kekompakan. Di sana ada kerja sama. Di sana juga ada kesendirian. Di sana ada kerja-kerja nyata, di sana juga ada kerja-kerja aqidah. Di sana ada keramahan, juga ada kedengkian. Hanya Allah yang Mahatahu. Mungkin inilah tarbiyah (pendidikan) Allah untuk meningkatkan kualitas kita. Di sini, kita bisa tahu seberapa besar kualitas kita. Di KKN ini, kita bisa tahu seberapa sabar seseorang, seberapa teguh seseorang. Tapi mungkin terlalu pendek menurutku, waktu 21 hari itu untuk mengetahui seluruh lapisan kepribadian seseorang, begitu kata Anis Matta. Karena sesungguhnya, kita semua memiliki lapisan kepribadian yang secara bertahap membentuk pesona kita.

        Lapisan pertama kepribadian kita adalah seluruh bagian-bagian fisik kita yang kemudian membentuk dinamika biologis. Contoh, laki-laki yang berbadan kekar, dengan sorot mata yang tajam dan tetap, biasanya menebarkan rasa aman dalam pandangan orang yang pertama. Tetapi pesona biologis ini akan segera menghilang bersama waktu, karena efek magnetisnya akan tergantikan oleh kekuatan realitas yang memancarkan pesona kedua yang bersifat nonfisik. Misalnya keseimbangan emosionalnya, kekuatan karakternya, arus logikanya, kedalaman unsur spiritualnya, keluasan wawasannya dan prestasi-prestasi nyatanya dan seterusnya.

        Ah…, rasanya sudah terlalu dalam kita keluar dari topik dengan bahasa yang mungkin agak berat. Semoga menambah wawasan kita. Maaf.

        Kepada semua Maroners, 42 orang saudaraku, terima kasih banyak. Engkau semua adalah pahlawan. Engkau semua luar biasa dan bertanggung jawab. Engkau telah buktikan dengan karya-karya kecilmu yang engkau rakit secara perlahan menjadi karya besar. Kepada semua divisi yang bekerja secara maksimal, divisi kesehatan, divisi pendidikan, divisi sosial ekonomi. Kepada person-person nondivisi. Koordinator Desa, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum. Angkat topi untuk kalian semua. Semoga kita tetap kompak aja. Semoga silaturrahim tetap tersambung, ucapan salam tetap tersampaikan, jabat tangan tetap tampak erat, senyum manis tetap tulus, saling sapa tetap ramah, tolong menolong tetap jadi budaya.

        Kepada perangkat desa Maron, seluruh warga, dan khususnya keluarga besar Bu Ning. Allahu Akbar. Semoga Allah membalas kebaikan keluarga besar desa Maron dengan balasan yang lebih baik.

        Sebelum semuanya itu, alhamdulillah saya masih diingatkan oleh Allah, mahasiswa ke-43 yang tidak jadi menemani, membantu, dan menyertai kita KKN. Saudari kita tecinta, Rizky Ivonila, aku memanggilnya UKHTIY IVON. Semoga engkau duduk di surga memandang kami bekerja di Maron. Semoga engkau tersenyum dengan hasil-hasil karya kami. Demi Allah, kami tak akan melupakanmu.

        Permintaan maaf setulus hati dariku, Wakil Koordinator Desa-mu ini. Wakordes yang ‘tidak bekerja apa-apa’. Maaf karena tidak banyak membantumu. Maaf karena terlalu banyak berkoar-koar waktu rapat, karena kebijakan-kebijakanku, karena instruksi-instruksiku, karena kesalahan-kesalahanku, karena kecerewetanku. Itu semua murni karena diriku dan bagian dari aneka keterbatasanku. Semoga Allah memudahkan hati kita untuk saling memaafkan.

        Sungguh aku teringat dengan yel-yel teriakan “KKN FMIPA Maron 2008….TERBAIK!!!”. Semoga itu tidak menjadikan kesombongan pada diri kita, tapi sebagai penambah semangat.

        Kepada seluruh peserta KKN MIPA di desa Kendalrejo, Selokajang, dan Ngaglik. Terima kasih dan mohon maaf. Bila ada kesalahan dari Maroners, aku sebagai salah satu pemimpinnya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Semoga ghibah-ghibah kita diampuni Allah. Tentang kejadian itu, keberkunjunganmu ke tempat kami, desa Maron, sungguh tidak ada sedikit niatpun dalam hati kami untuk menghinakanmu. Karena sesungguhnya kami menyadari, bahwa semuanya milik Allah, tidak ada yang perlu untuk disombongkan. Kami mohon maaf.

        Astaghfirullah……, rasanya sudah terlalu banyak saya berceloteh di sini. Ini mungkin hanya awalan dari beberapa tulisan saya menegenai pengalaman saya di KKN. Semoga Allah memberi kekuatan kepada saya untuk menuliskannya dan memberikan nilai manfaat. Dan semoga Allah memberikan kepada Anda,  wahai saudaraku yang aku cintai karena Allah, kekuatan kesabaran dan mengambil kemanfaatan dari tulisan saya ini dan selanjutnya.

        Sepulang dari KKN, seorang ikhwan (cowok) bertanya kepadaku, “Bagaiman Akh (saudaraku ) KKN-nya?”. Dengan tersenyum aku menjawab, “Alhamdulillah, Wa Innalillah, Wa Astaghfirullah.” Ya, Semoga Allah menerima semua amalku, kehadiranku di sana bermanfaat, semua kesalahanku dihapuskan, dosa-dosaku diampuni oleh Allah. Dan semua akan kembali kepada Allah. Dan kita semua semakin dicintai Allah. Amien.

Dan pisau pun berbicara……. (1)

January 9th, 2008 by mahatirkusumahalik

Haq dan batil selalu beseteru di
manapun dan kapanpun. Mulai dari zaman Nabi Adam sampai hari akhir nanti. Tak
terkecuali di kampungku, di daerah
Kedungkandang. Dan inilah pengalamanku dan keluargaku dalam bertemunya dua
kekuatan (haq dan batiil) ini. Semoga Allah mengampuni dosa kita semua.

Aku ingat waktu itu adalah hari
Senin, aku merasa dalam hati bukan hari senin seperti biasanya. Entah dalam
hati saya kok nggak enak. Kayaknya ada firasat yang kurang baik. aku coba
menghibur diri “Mungkin hanya perasaanku saja”, begitu dalam hatiku berkata. Tapi
aku berusaha mengisi hari itu dengan akifitas kebaikan. Seperti biasanya, aku
menghadiri kajian senin sore di basement FE bersama ikhwah lain, terus
mengimami sholat Maghrib di Musholla Nurul Ilmi FMIPA, trus hadir di Msjid
Raden Patah untuk ikut kajiannya Ustadz Dwi yang membahas kitab Madarijus
Salikin karya ulama besar, Ibnu Qayyim Al Jauziyah. Di tengah perjalanan ke
MRP, hp-ku berbunyi, kulihat ada pesan baru. Tenyata dari kakakku yang berada
di rumah. Isi SMS itu adalah melarang aku pulang ke rumah (dalam 2 hari ke
depan) karena ada suatu masalah antara bapakku dan orang2 kampung. Aku kaget
dengan pesan seperti itu.

Sebelum masuk Masjid, aku
menyempatkan diri ke Wartel masjid untuk telepon ke rumah. Ternyata yang
menerima teleponku adalah kakakku. Dari keterangan kakakku, ternyata ada
ketegangan antara bapakku dengan pemuda-pemuda kampung, antara keluargaku
dengan mereka pemuda kampung. Saat pembicaraan di ujung telepon itu
berlangsung, aku mendengar dengan suara yang lirih ada suara tangis dari ibuku,
ya aku mengenal itu suara ibuku. Hal itu membuatku bersedih.

Dua hari kemudian aku pulang.
Dan ternyata setelah mendengar cerita dari beberapa orang dan keluargaku, yang
tejadi pada hari senin waktu siang itu sungguh sangat mengerikan. Bebrapa
pemuda sambil dalam keadaan mabuk dan membawa senjata tajam mendatangi rumahku,
untuk mencari Bapakku. Kebetulan bapakku waktu itu sedang kerja ke luar kota.
Ibuku juga masih ada di pasar. Kakakku sedang ada di countermya, bisnis yang
sedang ia bangun, sedangkan adikku masih ada di sekolah. Praktis tidak ada
seorangpun yang berada di rumah.

Setelah mencari Bapakku nggak
ketemu, mereka mengadakan pesta miras sambil membawa senjata tajam di jalan
utama kampungku. Hal itu dilakukan di siang bolong. Saat semua warga mengetahui
hal itu. Saking parahnya, toko-toko di kampungku pada tutup semua, anak-anak
disuruh pulang, dan pintu jendela semua rumah ditutup rapat. Astaghfirullahal ‘adzim. Semua orang di kampung semuanya
takut nggak berani keluar rumah. Boleh dibilang, menurutku, kampungku dalam
keadaan status Siaga 1.

Setelah ditelusuri, penyebab
mereka semuanya marah kepada Bapakku adalah mereka menuduh bahwa aktifitas
mereka (mabuk dan judi yang dilakukan di poskamling RT03, kebetulan di tengah
keramaian, di pingir jalan, dekat Musholla, siang malam , tak terkecuali di
bulan Ramadhan)dilaporkan ke aparat kepolisian oleh Bapakku. Padahal tidak.
Bapakku hanya menyuruh mereka untuk tidak melakukan hal itu semua di tempat umum,
yakni di poskamling RT 03 (kebetulan Bapakku adalh ketua RT03), tetapi di
samping sungai. Itu artinya bukan Bapakku setuju dengan kelakuan mereka, tetapi
meminimalisir hal2 yang tidak diinginkan.

Sebetulnya Bapakku jelas sangat
tidak setuju dengan aktifitas mereka. Mereka sudah cukup mengganggu warga.
Namun, semua warga tidak berani menegurnya. Tak terkecuali para pengurus RW,
para ketua RT yang lain, bahkan Kyai (sesepuh kampung). Allahu Akbar

Ya Allah, ampunilah semua
dosa-dosa kami. Sayangi kami Ya Allah.
Bimbing kami Ya Allah, beri petunjuk kami Ya Rabb. Lindungi kami dari
orang-orang yang tidak mengerti Ya Allah…..

Taushiyah Orang GILA……. (pengalaman luar biasaku)

December 28th, 2007 by mahatirkusumahalik

    Ini
pengalamanku yang sangat luar biasa. Sungguh, sedikit pun saya tidak berdusta
kepada Anda, wahai saudaraku pembaca yang saya cintai karena Allah. Semoga
Allah memberikan kesabaran kepada kita dalam membaca tulisan saya ini. Selamat
menyimak. 

        Waktu
itu adalah hari Ahad. Pagi hari,
bulan Ramadhan 1428 H kemarin.
Seperti biasanya, setiap hari Ahad saya
selalu membantu ibu jualan di pasar. Tepatnya pasar Kedungkandang. Saya merasa
ya seperti biasanya. Kebetulan keadaan pasar waktu itu sedikit ramai daripada
biasanya.

  Sekitar pukul setengah sembilan pagi, saya
merasa mendengar sesuatu. Waktu itu saya sedang asyik mengemasi gula, teman
paling akrabku setiap berada di pasar. Eh.. ternyata benar, suara nyanyian
seorang laki-laki disertai suiara seruling. Saya pun keluar dan melihatnya. Tampak
seorang lelaki tua (tapi tetap segar dan sehat badannya) dengan telanjang dada
dan dengan celana motif tentara setinggi tiga perempat. Kausnya yang berwana
putih diikiat di kepalanya, meskipun sedikit kelihatan kepalanya yang agak
botak. Berkumis tipis, tapi tak berjenggot. Alas kaki pun tak ada. Di koloran
celananya (atau daerah ikat pinggang celana), terselip banyak sobekan kertas
putih mengelilingi pinggulnya. Dia menyanyi lagu dangdut, sesakli meniup
serulingnya, dan pada akhirnya dia membaca sebuah puisi. Sesekali dia
tertawa-tawa sendiri. Apabila saya, Anda, semua orang melihatnya, pasti dapat
ditarik kesimpulan, semua orang akan menyebutnya ORANG GILA.

 

 Tapi keanehan dan kekagumanku dimulai. Dia mulai berceramah, 

”Assalamualaikum Wr. Wb. Assholatu wassalamu’ala
Rosulillah ….

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWt yang
telah….

Yang kedua, Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Kanjeng Nabi
Muhammad Saw beserta keluarganya, ….
Bapak-bapak, ibu-ibu, hadirin semua. Hari ini kebetulan bertepatan dengan
tanggal 9 bulan suci Ramadhan tahun 1428H, bulan suci di mana kita semua kabeh wong Muslim diwajibkan berpuasa. Karena
Allah telah berfirman, Ya Ayyuhalladzina Amanu Kutiba ’alaikumus shiyam kama ….(Q.S
al Baqarah 283 beserta artinya).

……………………………………………

………………………………….

Itu artinya kita disuruh untuk instropeksi diri atas semua kejadian yang
menimpa kita. Pada zaman sekarang, mungkin zaman sudah akhir. Banyak kemaksiatan
merajalela. Remaja-remaja putri banyak yang telanjang. Riba dimana-mana. Mabuk,
main dan kemaksiatan yang lain. Orang
berdagang, berlaku curang apabila ia menimbang barang.

………………………………………………………………

……………………………………………………………..

 Terus kita lihat, pemerintahan SBY
sekarang banyak bencana. Tsunami Aceh, gempa Jogja, tanah longsor, Lumpur
Porong Sidoarjo, dan musibah-musibah yang lain. Na’udzubillah, kita sedang
mendapatkan ujian dari Allah SWT.

……………………………………………………………..

……………………………………………………………..

Oleh krena itu, marilah kita sama-sama meningkatkan taqwa kita kepada Allah
swt,jangan sampai kita berbuat maksiat. Ayo kita dirikan Sholat. Jangan sampai
kita sholat tapi kita lalai. Firman Allah swt, Aroaitalladzi
Yukaadzibubiddin..
(Q.S. Al Ma’un). Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita. Mari
kita tutup pesan saya ini dengan doa.”

 

 Trus dia menutup kata-katanya dengan doa.

  Subhanallah. Luar biasa.
Seorang gila yang menyampaikan ceramah agama di tengah pasar. Saya sangat
terheran-heran. Bagaimana seorang yang gila bisa berceramah agam dengan bahasa
yang sederhana, jelas, rapi, fasih, terstruktur, tapi sangat mendalam. Bagaimana
seorang yang gila bisa tahu bahwa hari itu adalah hari puasa. Bagaimana seorang
yang gila bisa tahu bahwa tahun itu adalah tahun 1428 H. Bagaimana seorang yang
gila bisa tahu dan dapat mengucapkan AlQuran yang suci (QS al Baqarah dan QS al
Ma’un) beserta arti dan penafsiran singkatnya. Bagaimana seorang yang gila bisa
tahu bahwa ada gejala bencana alam seperti tsunami, lumpur Lapindo, dll.

 

 Sungguh, saya mendapat
pelajaran yang sangat berharga. Meskipun sesekali di tengah-tengah ceramahnya
tadi dia tertawa-tertawa sendiri, semua orang di pasar berkumpul mendekatinya. Orang-orang
yang tadinya mencela, tapi lama-kelamaan dia mulai menikmati ceramahnya. Beberapa
pedagang meninggalkan barang dagangannya hanya untuk melihat dan mendengar
pesan-pesan orang gila itu.
Dan
sempat semua transaksi jual beli itu berhenti karena adanya kejadian tadi. Allahu
Akbar.

 Sungguh ilmu Allah tidak
harus meluncur dari lisan seorang Syaikh, ustadz, kyai, murobbi, guru, dosen,
dan orang2 terpandang lainnya. Sungguh ini adalah tarbiyah (pembinaan/pendidikan)
yang luar biasa. Tarbiyah bagi saya, tarbiyah bagi orang-orang di pasar, dan
semoga tarbiyah bagi Anda dan teman-teman Anda, wahai pembaca yang budiman.

Amanah Besar Itu…., Mengurus Baitullah

July 20th, 2007 by mahatirkusumahalik

     Saya bingung harus memulai menulis dari mana. Maklum, masih dalam tahap belajar menulis. Dan saya pun tidak bisa menjawab, apabila ditanya mengapa saya harus memulai menulis tentang ini. Ah, biarlah. Saya hanya bisa berdoa agar tulisan saya ini bermanfaat bagi orang lain.       

         
        Amanah ini, mengurus Baitullah, saya emban mulai antara akhir semester dua-awal semester tiga. Selama satu tahun, saya kuliah pulang-pergi ke kampus. Rumahku berjarak sekitar 5-6 km dari kampus. Tepatnya di daerah Kedungkandang, Malang Timur (tapi masih Kotamadya Malang lho). Ke kampusnya sering ganti-ganti transport. Pernah pakai sepeda motor tua ‘Prima’ milik kakak (alhamdulillah sekarang sudah ditipkan ke saya), walaupun saat itu belum mengantongi SIM. Selama pakai sepeda motor, saya juga pinjam SIM milik kakak (alhamdulillah sekarang dah punya sendiri). Dan saya bersyukur, sampai sekarang nggak pernah kena tilang Silup (Polisi maksudnya he..he..he.). Pernah pakai sepeda pancal, naik angkot, dan bareng (nebeng) temen. Yang nggak pernah, jalan kaki. Suatu saat insya Allah saya pingin coba. Sekedar mengingat-ingat, selama 2 tahun di SMA, saya pulang-pergi jalan kaki untuk bersekolah (mungkin sekitar 3-4 km).          

 
        Karena banyak jeda waktu antar jadwal kuliah, selama setahun, kalo ada waktu kosong, biasanya kalo gak ke perpus (ngerjain laporan), ke kos temen, ya ke musholla. Mungklin saking terlalu seringnya ke Musholla, takmir waktu itu bosen liat saya. Dan akhirnya…. tawaran itu pun datang (bukan tawaran nikah lhoo, ups!). Tawaran menjadi takmir. Kebetulan takmir waktu itu akan segera lulus, sedangkan partnernya sesama takmir segera pindah (keluar dari takmir). Dan saya pun ditawari. Setelah mendengar itu, di hati saya pun masih fifty-fifty. Antara menerima dan tidak. Saya diskusikan bersama keluarga, dan keluarga merestui saya untuk mengemban Amanah Besar itu.
        Tujuan saya menjadi takmir Musholla Nurul Ilmi FMIPA Universitas Brawijaya tercinta ini insya Allah ibadallah. Ingin memperbaiki kegiatan, sarana, prasarana, fasilitas, dan pelayanan ummat. Tak semudah yang saya bayangkan, ternyata amanah ini sungguh sangat berat. Harus bisa mengatur waktu. Diusahakan semaksimal mungkin selalu standby pada waktu-waktu sholat. Sebelum jam 6 pagi, setiap hari, bangunan ini harus sudah dalam keadaan bersih dan sudah siap untuk segala aktivitas kebaikan, seperti sholat, belajar, halaqoh/liqo’, diskusi keagamaan, kultum, syuro, mungkin kajian, atau mungkin ‘hanya’ silaturrahim antar saudara sesama muslim se-aqidah. Bahkan, mulai bulan Maret 2007, Musholla mungil ini mengadakan sholat Jumat. Jadi ada amanah tambahan, mencari khotib. Selain itu, yang pasti, bertanggung jawab sepenuhnya atas musholla ini.               

 
        Saya menyadari, amanah ini menunutut kedisiplinan yang ekstra. Amanah yang menguras banyak tenaga, pikiran, dan waktu. Mungkin masak sendiri (kalo nggak males) salah satu kegiatan tambahan saya. Walaupun masak sangat sederhana sekali (seperti menggoreng krupuk, menggoreng telur, masak mie instant, masak nasi pake rice cooker, dan mungkin masak sayur direbus tanpa dikasih bumbu-maklum, nggak bisa masak yang aneh2 seperti para ibu2-) itu sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuk aja. Kalo lagi males masak, mungkin beli kue/Weci di Pak To Hutan MIPA, beli lauk & sayur di warung. Atau bahakan sering juga makan pake lauk Pilus/krupuk aja (yang sering pas sahur Ramadhan), pake kecap aja. Suatu pengalaman luar biasa bagi saya pribadi. Kalo pas ada rizki (dan kalo gak nanak nasi), ya sesekali marung (beli makan di warung). Sering juga ada lauk/sayur dari mas Syaiful, partner takmir 1 kamar. Atau pas beruntung, ada suatu bungkusan ‘misterius’ ( biasanya berupa snack, buah, atau bahkan pernah juga nasi) pemberian jama’ah MNI. Semoga Allah menerima kebaikan beliau dan mengganti kebaikannya dengan yang lebih baik. Ehhhh…. afwan, koq malah ngomongin makanan.
        Sudah satu tahun saya menunaikan amanah itu.

                Banyak kesan-keasan pahit atau manis selama menunaikan amanah ini. Sebetulnya, niat saya yang lain adalah ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah. Saya sempat diberi nasihat oleh seorang al-akh. Beliau bercerita tentang dua sahabat Tabi’in, Abdullah ibnu Mubarok dan Fudhail bin Iyadh. Sebetulnya sejarah ini sudah saya dengar, yaitu ketika Fudhail bin Iyadh sang ahli ibadah di Masjidil Haram sedang tekun beribadah di Masjidil Haram. Lalu sahabatnya, Abdullah ibnu Mubarok seorang ahli fiqh dan hadist yang sedang dalam keadaan bertempur dengan tentara kuffar, mengirim surat kepada Fudhail bin Iyadh yang berisi untaian bait syair berikut ini,

Wahai orang yang sedang tekun beribadah di Masjidil Haram…

Andai engkau mengetahui kami…

Niscaya engkau akan menyadari, ibadahmu bernilai main-main…

Jika pipimu basah oleh linangan air mata…

Maka leher kami basah dengan tetesan darah…

Jika kudamu lelah untuk hal yang sia-sia…

Maka kuda kami lelah dalam sengitnya pertempuran…

Bau harum wewangian untukmu…

Sedangkan wewangian kami…

Adalah kepulan debu yang diterbangkan kaki-kaki kuda…

        Kemudian beliau meneruskan, ” Tekun beribadah di Masjidil Haram pada saat kehormatan kaum muslimin dinodai dan darah mereka ditumpahkan serta agama Allah dihalau dari suatu negeri, adalah perbuatan mempermainkan agama Allah”.

Saya langsung takut mendengar lagi cerita itu, apalagi ketika dibacakan kepada saya surah At-Taubah ayat 19-20 yang artinya

Apakah (orang-orang) yang memberi minuman orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta bejihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. At-Taubah: 19-20)

            Suatu malam , saya merenungkan ayat Allah itu, dan saya merasa sangat takut, hati saya bergetar, dan air mata pun meleleh . Saya takut kalau saya termasuk kaum yang zhalim. Jazakallah kepada akhuna yang menasihati saya itu. Bahwa memang kata Sayyid Quthb, ayat-ayat Allah yang suci hanya bisa dipahami secara benar oleh orang-orang yang bergerak dan bekerja dalam bidang harakiah. Dilanjutkan oleh Asy Syahid Dr Abdullah Azzam bahwa nash-nash yang suci ini hanya bisa dimengerti secara integral dan komprehensif oleh orang-orang yang turun langsung berjihad di jalan Allah. Dan saya pun berdoa agar saya termasuk orang-orang yang memperjuangkan agama Allah.

        Kesan yang tak terlupakan adalah saat-saat yang berusaha tak tergantikan dengan kegiatan lain. Kapan itu? Yaitu ketika setiap pagi sebelum jam 6 pagi, di MNI, dalam keadaan tenang, tanpa suara apapun (suara orang, musik-musik dari HMJ, dll), kecuali suara kicauan burung yang indah. Pada saat itulah saya lebih khusyuk untuk membaca & berusaha menambah hafalan Quran dengan suara yang agak keras. Indah, tenang, khusyuk, dan nikmat. Maklum, setelah jam itu, suasana MNI tidak lagi kondusif untuk melakukan hal seperti itu.

               
        Entah sampai kapan saya mengemban amanah ini. Ada masukan dari seorang al-akh, saya boleh keluar (gak jadi takmir MNI lagi maksudnya) kalo saya sudah hafal 4 atau 5 juz dari Al Quran. Haah???. Tapi beliau bilang bahwa saya pasti bisa, jangankan 5 juz, 30 juz pun bisa. Amin. Tapi yang pasti, kalo saya sudah bukan berpredikat menjadi mahasiswa MIPA UB lagi, saya bukan takmir lagi.

                                                Astaghfirullahal’adzhim. Sudah terlalu banyak amanah terkait takmir ini yang belum saya tunaikan. Sudah terlalu banyak kedholiman yang ana lakukan kepada jamaah, anggota Forkalam, dan masjid ini. Mukenah yang ‘beraroma’ dan tak terurus, tanama-tanaman MNI yang terdholimi, keadaan yang kurang bersih dan kurang nyaman, hak-hak ukhuwah kepada jamaah, keamanan yang mungkin kurang kondusif, waktu-waktu yang sebetulnya buat kultum tapi kosong, perpustakaan MNI yang nggak rapi dan selalu tutup, adzan yang telat dari waktunya, mading yang kosong tanpa artikel dan telat masangnya, dan masih sangat banyak lagi.‘Afwan jiddan kepada semua jamaah, mahasiswa MIPA pengguna MNI, anggota Forkalam yang sering sobo ke MNI, tetangga-tetangga penghuni tetap MIPA, ketua takmir, birokrasi yang terkait dengan MNI, dan semuanya yang pernah ke MNI. Sungguh, salah satu yang membuat saya bahagia di MNI adalah melihat wajah-wajah ikhlas, cerah, sabar, dan terasa pancaran ukhuwahnya dari para aktivis dakwah kampus, terutama Forkalam. Engkau bagaikan mutiara yang tak ternilai harganya. Pemuda yang tidak egois. Kuliah sekaligus berjuang demi agamanya. Ana uhibbukum fillah, ikhwah….. Semoga Allah memudahkan jalan kita ke surga-Nya kelak. Amin.

Penghargaan Tertinggi Untuk Perempuan

January 22nd, 2007 by mahatirkusumahalik

 Setiap taman mempunyai hembusan angin. Hembuasan
taman dunia adalah kaum perempuan. Mereka, saudara kaum laki-laki. Ibu para
pahlawan. Penuh lembut, indah, rahim orang-orang besar, melahirkan para ulama,
membesarkan orang-orang tangguh, mendidik para bijak. Perempuan, itu perasa.
Menyakitinya adalah dosa. Memarahinya adala cela. Barangsiapa yang
mencederainya, maka ia tak lagi mempunyai hak mendapat kasihnya. Andai engkau
berikan untuknya simpanan mahar. Kemudian Anda mengabdi kepadanya selama satu
bulan. Lalu ia melihat ada kekeliruan sedikit dari dirimu. Ia mungkin akan
berkata, “Aku tak melihat kebaikan apapun dari dirimu.”. Perempuan, di dunia
adalah hiasan, keindahan dan pemberi inspirasi. Dia dalah pakaian bagi kaum
laki-laki. Teman intim dalam kehidupan. Ia juga ibu yang sangat kasih. Sahabat
bagi yang bersedih, lebih baik dari meratap dan menangis. Tapi lebih merisaukan
dari sakit dan lara.

 Air susunya adalah makanan
yang paling tulus. Perlindungan yang diberikannya, benar-benar tulus. Air
susunya adalah sumber kasih sayangnya. Di matanya tersimpan rahasia. Di
keningnya terdapat banyak cerita. Air susunya menyimpan makna kedermawanan..
Dalam peluknya ada kasih sayang. Rasa laparnya, berarti ia tidak lapar seorang
diri. Ketiadaan perempuan dari kehidupan adalah kehilangan bayak kebahagiaan.
Ketersembunyaian perempuan dalam pentas dunia, adalah membunuh keindahan. 

 Ia adalah rumah bagi
rantai keturunan. Penghimpun bayak prosa dan seni bahasa. Emas tanpa perempuan
adalah arang. Mutiara tanpa perempuan adalah seonggok kayu. Pendapat dan
pandangannya memuat bahasa hati yang bisa Anda baca. Anda mengetahui kadar
cintanya, dari perempuan yang ditinggal kekasihnya. Dengan perempuan
dipahamilah arti kepergian dan perambungan. Pertemuan dan perpisahan. Kerugian
dan kebingungan. Ketidak pedulian dan tuduhan.

 Argumentasi perempuan bisa
berakibat pada pembunuhan. Hanya kata-kata yang bisa disampaikan kepadanya bisa
bermakna meminangnya. Perkataan perempuan adalah sihir yang halal.
Kalimat-kalimat dari lisannya mengalir seperti madu. Senyumnya lebih lezat
daripada anggur. Perempuan lebih mampu menyihir ketimbang Harut dan Marut.

 Di antara
perempuan-perempuan, terdapat Khadijah yang menjadi simbol etika. Khadijah
mempunyai istana di surga, dari bambu surga. Tak ada keributan dan keletihan di
sana. Di antara perempuan-perempuan ada Aisyah binti Ash Shiddiq. Ia pemilik
ilmu, ketelitia dan kredibilitas. Ia disucikan dan suci. Ia mempunyai
kelembutan yang luar biasa dan keterpujian yang menonjol. Di antara
perempuan-perempuan ada Fathimah al-Batul, binti Rasulullah. Ibu dari Hasan dan
Husain. Pemimpin wanita dunia. Yang diterima di sisi Rabbul Alamin.

 Perempuan adalah kertas
putih. Di atasnya laki-laki menulis apa yang ia mau. Dari kecintaan dan
kebencian. Dari kemarahan dan penghinaan. Ia adalah taman yang hiaju. Kebun
yang menawan. Di dalamnya semua tumbuh-tumbuhan begitu indah dengan segala
jenisnya. Pisau mereka adalah cinta. Yang mampu menyungkurkan orang yang
mempunyai pikiran. Dan melemahkan orang yang tangguh, bila berhadapan
dengannya. Orang yang berakal di sisinya menjadi tak berdaya. Anda melihat
seorang laki-laki berkelahi melawan singa, bertempur melawan pasukan
bersenjata. Tapi orang itu dikalahkan oleh perempuan! Anda lihat seorang lelaki
sangat hati-hati dan zuhud dalam soal harta. Mampu berpuasa dari makan dan
minum. Tapi orang itu juga ditaklukkan oleh perempuan. Anda lihat seorang
laki-laki pemberani bisa tergeletak tidak berdaya dan dikalahkan, mampu melawan
jika ia menginginkan perempuan. Perempuan, dalam kebenciannya tidak terlihat
jelas. Air matanya adalah petunjuk paling nyata bagi orang yang mencintainya.
Rahasia kekuatannya adalah, justru sebenarnya ia lemah.

Orang-orang kafir ingin agar perempuan bebas berhias
dengan fitnahnya. Sedangkan Islam inginkan keterlindungan dan ketertutupan.
Ketakwaan dan kebersihan. Agar perempuan menjadi bukti keindahan dan
penerimaan. Orang-orang kafir ingin perempuan tampil dengan pakaian menawan.
Jika laki-lakinya terfitnah oleh dirinya, dan anak-anaknya membangkang
kepadanya, maka generasi keturunannya menjadi sia-sia. Islam ingin agar
perempuan terlindungi dengan benteng yang sungguh mahal.

Adalah Adam as di surga tanpa teman dan tanpa
pendamping. Lama berlalu masa itu, dan kesepian membuatnya sulit. Maka Allah
swt menciptakan untuknya Hawa. Lalu terciptalah antara keduanya kebersihan dan
kesetiaan. Pertemuan yang baik, perlakuan yang baik. Laki-laki tanpa perempuan
bak sebuah buku yang tak berjudul. Raja tanpa kerajaan. Sedangkan perempuan
tanpa laki-laki adalah ibarat padang pasir yang tak bertumbuhan dan tak ada
pepohonan. Kebun tanpa bunga dan buah.

Terima kasih wahai Aminah binti Wahab. Engkau
telah menghadiahkan kepada kemanusiaan. Engkau telah mengajukan pengorbananmu
untuk manusia. Seorang anak yang memancar kehormatannya sebagaimana pancaran
matahari di waktu dhuha dan bulan saat benderang. Seorang anak yang mengatakan
kepada kepercayaan berhala, “Demi jiwaku yang ada di Tangan-Nya. Jika kalian
meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku. Aku takkan
pernah meninggalkan agamaku. Sampai seluruh desa dan seluruh daratan ini
terwarnai oleh agamaku.”

Perempuan-perempuan telah memberikan dunia, para
pemimpin di masa khulafa rasyidin. Mereka mempersembahkan para pahlawan dan
para mujahidin. Para ahli dunia dan agama. Perempuan, jika baik perilakunya,
suci jilbabnya, penuh kasih hatinya, maka rumah akan penuh keridhaan dan dunia
menjadi tentram. Rumah tanpa perempuan adalah mihrab tanpa imam. Jalanan tanpa
petunjuk. Andai perempuan tersembunyi dari kehidupan. Tak ada pelukan dan
senyuman. Tak ada kata-kata dan ungkapan. Andai perempuan tak wujud di dunia,
tak ada keturunan dan kelahiran. Hanya ada para bujangan.

Dalam hadist disebutkan, “Nikahilah perempuan yang
kasih sayang dan banyak melahirkan anak.” Rahasianya adalah untuk memperbanyak
pasukan, menambah jumlah tentara, dan agar Rasulullah membanggakan jumlah yang
banyak di hari kiamat. Di saat perempuan melucuti hijab, melepas jilbab,
melawan hukum Islam, keluar dengan liar. Katakanlah, selamat tinggal kesucian.
Bagaimana rumah tanpa pintu bisa terpelihara. Bagaimana istana bisa terlindungi
tanpa penjaga. Air akan dijilat dan diminum oleh anjing. Maka, penghuni rumah
haruslah menjaga dan melindungi.  

 

 

Dari seorang lelaki di bumi Allah.

My Favourite Words From Mujahidin

January 11th, 2007 by mahatirkusumahalik

Aku, surga dan tamanku ada dalam dadaku. Kemanapun aku pergi, selalu mengikutiku, tak pernah meninggalkanku. Jika aku dipenjara, bagiku itu adalah KHALWAH, jika aku diusir bagiku itu adalah SHIYAHAH, jika aku dibunuh bagiku itu adalah SYAHADAH.